Jumat, 18 Maret 2022

Serangkaian Tradisi Menyambut Hari Raya Idul Fitri Khas Sunda

 Sunda merupakan salah satu suku di Indonesia yang mayoritasnya mendomisili Pulau Jawa khususnya adalah Jawa Barat.  Sebagaimana suku-suku lainnya yang ada di Indonesia, suku Sunda memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Dapat kita pahami masing-masing suku di Indonesia memiliki adat istiadat yang sudah mendarah daging sebagai bentuk melestarikan warisan leluhurnya. Begitu juga dengan suku Sunda, kebiasaan turun temurun dari leluhur sangat dijunjung tinggi karena begitulah cara mereka untuk tetap eksis meskipun jaman sudah sangat modern dan mulai terpengaruh oleh budaya barat.

Hari raya idul fitri merupakan hari suci yang kehadirannya sangat ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Seluruh umat muslim berbondong-bondong untuk mencapai kemeriahan hari tersebut, bahkan dari jauh hari sudah mempersiapkan serangkaian atribut yang diperlukan untuk menyambut hari raya idul fitri. Karena keberagaman suku di Indonesia maka umat muslim masing-masing daerah atau suku memiliki caranya tersendiri dalam menyambut hari raya idul fitri. Artikel ini akan membawa reader untuk sedikit menjelajahi tradisi suku Sunda dalam menyambut hari raya idul fitri.

Ngadulag

Dulag dalam bahasa sunda apabila diartikan dalam bahasa Indonesia adalah bedug, maka ngadulag dapat diartikan sebagai kegiatan memukul bedug. Kegiatan memukul bedug ini biasa dilakukan oleh masyarakat suku Sunda pada saat malam takbiran atau malam sebelum hari raya idul fitri. Biasanya masyarakat Sunda melakukannya sambil bertakbir, aktivitas ngadulag ini dapat ditemukan di masjid-masjid setempat.

Tidak jarang dapat dijumpai di jalanan desa pemuda-pemuda yang menaiki kendaraan bak terbuka, mereka sambil memukul bedug sambil bertakbir dan mengelilingi perkampungan. Kegiatan ngadulag ini memang seringkali didominasi oleh pemuda-pemuda desa karena itulah cara mereka bersenang-senang dalam menyambut hari raya idul fitri.

Nganteuran

Umat muslim diwajibkan untuk menjaga  hubungan silaturahmi dengan sesamanya, begitu pula pada saat hari raya idul fitri seluruh umat muslim akan mempersiapkan diri untuk kembali menjalin hubungan yang baik dengan sesamanya baik itu keluarga ataupun tetangga. Bukan hanya mempersiapkan diri untuk saling bermaaf-maafan biasanya menjelang hari raya idul fitri masyarakat suku Sunda akan mempersiapkan makanan khas lebaran seperti ketupat, opor ayam, semur daging dan lain semacamnya tidak lupa juga menyiapkan sajian kue khas lebaran.

Nganteuran dalam bahasa Indonesia memiliki arti mengantarkan. Aktivitas nganteuran ini pada umumnya dilakukan 1 hari sebelum hari raya idul fitri, atau pada saat malam takbiran. Pada saat itulah masyatakat suku Sunda saling memberi antar sesama umat muslim atau sesama tetangganya, dikatakan mengantarkan karena bentuk kegiatannya yaitu dimana satu orang saling mengantarkan makanan yang sudah disiapkannya kepada tetangga maupun sanak saudara.

Aktivitas nganteuran ini sudah sangat familiar bagi penulis, karena background penulis yang berasal dari suku Sunda. Berdasarkan pengalaman penulis, nganteuran ini selain sebagai perayaan untuk menyambut hari raya idul fitri juga dapat dijadikan ajang untuk saling mengasihi sesama dan yang paling penting adalah untuk tetap menjaga hubungan silaturahmi antar umat muslim serta menjaga kerukunan antar tetangga. Penulis sendiri sering terlibat dalam tradisi ini, setiap hari menjelang idul fitri atau pada hari rayanya penulis senang membantu keluarga untuk mempersiapkan makanan yang kemudian diantarkan untuk tetangga terdekat.

Nyekar

Tradisi nyekar ini sama halnya dengan ziarah kubur akan tetapi pada umumnya nyekar dilakukan sebelum hari raya idul fitri atau bisa juga pada saat hari raya idul fitri berlangsung. Misalkan setelah melaksanakan solat sunnah idul fitri biasanya umat muslim khususnya adalah masyarakat suku Sunda akan mengunjungi makam sanak saudara yang sudah terdahulu berpulang. Selain memberikan doa diatas makam, kami juga menyediakan bunga untuk ditebar diatas makam dan menyediakan air mawar.

Sungkeman

Sebagaimana umat muslim pada umumnya, hari raya idul fitri memiliki arti bagi umat muslim untuk kembali menyucikan diri dari segala dosa dan kesalahan terhadap sesama. Oleh karena itu sudah menjadi tradisi bagi seluruh umat muslim untuk saling bermaaf-maafan mengenai kesalahan yang mungkin pernah diperbuatnya kepada sesamanya.

Sungkeman ini merupakan aktivitas masyarakat suku Sunda dimana yang muda akan bersimpuh sambil mencium kedua tangan orang tuanya. Kegiatan sungkeman ini juga biasanya dilakukan bersamaan dengan memberi uang dari yang tua kepada yang muda atau lebih sering kita kenal dengan sebutan pemberian THR (Tunjangan Hari Raya). Istilah THR ini pasti sudah sangat familiar bagi masyarakat Indonesia.

 

Demikianlah serangkaian tradisi dari suku Sunda dimulai dari satu hari menjelang lebaran sampai hari waktunya idul fitri. Semua suku yang ada di Indonesia pasti juga memiliki ciri khas atau kearifannya masing-masing dalam menyambut hari raya idul fitri. Penulis juga beranggapan bahwa dari beberapa suku mungkin memiliki kesamaan dalam beberapa rangkaian tradisinya, oleh karena itu marilah kita tetap menjaga keharmonisan ditengah-tengah perbedaan ini.