Sunda merupakan salah satu suku di Indonesia yang mayoritasnya mendomisili Pulau Jawa khususnya adalah Jawa Barat. Sebagaimana suku-suku lainnya yang ada di Indonesia, suku Sunda memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Dapat kita pahami masing-masing suku di Indonesia memiliki adat istiadat yang sudah mendarah daging sebagai bentuk melestarikan warisan leluhurnya. Begitu juga dengan suku Sunda, kebiasaan turun temurun dari leluhur sangat dijunjung tinggi karena begitulah cara mereka untuk tetap eksis meskipun jaman sudah sangat modern dan mulai terpengaruh oleh budaya barat.
Hari raya idul fitri merupakan hari suci yang
kehadirannya sangat ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Seluruh umat muslim
berbondong-bondong untuk mencapai kemeriahan hari tersebut, bahkan dari jauh
hari sudah mempersiapkan serangkaian atribut yang diperlukan untuk menyambut
hari raya idul fitri. Karena keberagaman suku di Indonesia maka umat muslim
masing-masing daerah atau suku memiliki caranya tersendiri dalam menyambut hari
raya idul fitri. Artikel ini akan membawa reader untuk sedikit
menjelajahi tradisi suku Sunda dalam menyambut hari raya idul fitri.
Ngadulag
Dulag dalam bahasa sunda apabila diartikan dalam
bahasa Indonesia adalah bedug, maka ngadulag dapat diartikan sebagai kegiatan
memukul bedug. Kegiatan memukul bedug ini biasa dilakukan oleh masyarakat suku
Sunda pada saat malam takbiran atau malam sebelum hari raya idul fitri. Biasanya
masyarakat Sunda melakukannya sambil bertakbir, aktivitas ngadulag ini dapat ditemukan
di masjid-masjid setempat.
Tidak jarang dapat dijumpai di jalanan desa
pemuda-pemuda yang menaiki kendaraan bak terbuka, mereka sambil memukul bedug
sambil bertakbir dan mengelilingi perkampungan. Kegiatan ngadulag ini memang
seringkali didominasi oleh pemuda-pemuda desa karena itulah cara mereka
bersenang-senang dalam menyambut hari raya idul fitri.
Nganteuran
Umat muslim diwajibkan untuk menjaga hubungan silaturahmi dengan sesamanya, begitu
pula pada saat hari raya idul fitri seluruh umat muslim akan mempersiapkan diri
untuk kembali menjalin hubungan yang baik dengan sesamanya baik itu keluarga
ataupun tetangga. Bukan hanya mempersiapkan diri untuk saling bermaaf-maafan
biasanya menjelang hari raya idul fitri masyarakat suku Sunda akan mempersiapkan
makanan khas lebaran seperti ketupat, opor ayam, semur daging dan lain
semacamnya tidak lupa juga menyiapkan sajian kue khas lebaran.
Nganteuran dalam bahasa Indonesia memiliki arti mengantarkan.
Aktivitas nganteuran ini pada umumnya dilakukan 1 hari sebelum hari raya idul
fitri, atau pada saat malam takbiran. Pada saat itulah masyatakat suku Sunda saling
memberi antar sesama umat muslim atau sesama tetangganya, dikatakan
mengantarkan karena bentuk kegiatannya yaitu dimana satu orang saling
mengantarkan makanan yang sudah disiapkannya kepada tetangga maupun sanak
saudara.
Aktivitas nganteuran ini sudah sangat familiar bagi
penulis, karena background penulis yang berasal dari suku Sunda. Berdasarkan
pengalaman penulis, nganteuran ini selain sebagai perayaan untuk menyambut hari
raya idul fitri juga dapat dijadikan ajang untuk saling mengasihi sesama dan
yang paling penting adalah untuk tetap menjaga hubungan silaturahmi antar umat
muslim serta menjaga kerukunan antar tetangga. Penulis sendiri sering terlibat
dalam tradisi ini, setiap hari menjelang idul fitri atau pada hari rayanya
penulis senang membantu keluarga untuk mempersiapkan makanan yang kemudian
diantarkan untuk tetangga terdekat.
Nyekar
Tradisi nyekar ini sama halnya dengan ziarah kubur
akan tetapi pada umumnya nyekar dilakukan sebelum hari raya idul fitri atau
bisa juga pada saat hari raya idul fitri berlangsung. Misalkan setelah
melaksanakan solat sunnah idul fitri biasanya umat muslim khususnya adalah masyarakat
suku Sunda akan mengunjungi makam sanak saudara yang sudah terdahulu berpulang.
Selain memberikan doa diatas makam, kami juga menyediakan bunga untuk ditebar
diatas makam dan menyediakan air mawar.
Sungkeman
Sebagaimana umat muslim pada umumnya, hari raya idul
fitri memiliki arti bagi umat muslim untuk kembali menyucikan diri dari segala
dosa dan kesalahan terhadap sesama. Oleh karena itu sudah menjadi tradisi bagi
seluruh umat muslim untuk saling bermaaf-maafan mengenai kesalahan yang mungkin
pernah diperbuatnya kepada sesamanya.
Sungkeman ini merupakan aktivitas masyarakat suku
Sunda dimana yang muda akan bersimpuh sambil mencium kedua tangan orang tuanya.
Kegiatan sungkeman ini juga biasanya dilakukan bersamaan dengan memberi uang
dari yang tua kepada yang muda atau lebih sering kita kenal dengan sebutan
pemberian THR (Tunjangan Hari Raya). Istilah THR ini pasti sudah sangat
familiar bagi masyarakat Indonesia.
Demikianlah serangkaian tradisi dari suku Sunda
dimulai dari satu hari menjelang lebaran sampai hari waktunya idul fitri. Semua
suku yang ada di Indonesia pasti juga memiliki ciri khas atau kearifannya masing-masing
dalam menyambut hari raya idul fitri. Penulis juga beranggapan bahwa dari
beberapa suku mungkin memiliki kesamaan dalam beberapa rangkaian tradisinya,
oleh karena itu marilah kita tetap menjaga keharmonisan ditengah-tengah
perbedaan ini.